YONNEDI.M. S.Ag,.M.Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Menuju sholat yang khusyu....

Menuju sholat yang khusyu....

Kiat kiat Menuju Shalat Yang Khusyuk

Shalat bukan sekadar gerakan berdiri, rukuk, sujud lalu salam. Ia adalah pertemuan hamba dengan Rabb-nya. Ia adalah mi‘rajnya orang beriman. Jika jasad kita berdiri di atas sajadah, tetapi hati berkelana ke pasar, ke ladang, ke dunia — maka kita belum benar-benar shalat.

Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an:

“Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya.” (QS. Al-Qur'an 23:1–2)

Kisah Ali bin Abi Thalib dan Kekhusyukan

Diriwayatkan bahwa suatu ketika ada anak panah atau besi yang tertancap di tubuh Sayyidina Ali. Para sahabat kesulitan mencabutnya karena sakit yang luar biasa. Lalu Ali berkata, “Cabutlah ketika aku sedang shalat.”

Mengapa? Karena ketika beliau berdiri dalam shalat, hatinya tenggelam dalam lautan munajat. Hubungannya dengan Allah begitu dalam sehingga rasa sakit dunia menjadi kecil.

Ini bukan berarti beliau kebal rasa sakit. Tetapi ketika hati telah larut dalam kehadiran Allah, perhatian terhadap selain-Nya menjadi lemah. Itulah hakikat khusyuk.

Ada pula kisah ketika beliau ditanya tentang warna pakaian yang dipilih sebelum shalat. Setelah selesai shalat dan ditanya kembali warna mana yang ia pilih, beliau menjawab. Lalu beliau berkata, “Jika aku masih mengingatnya dengan jelas, boleh jadi shalatku belum sempurna khusyuknya.”

Maksudnya bukan berarti haram mengingat hal itu, tetapi menunjukkan betapa tingginya standar kekhusyukan menurut para sahabat.

Apa Itu Khusyuk?

Menurut Ibnu Hajar al-Asqalani, secara bahasa khusyuk berarti tenang dan tunduk.

Secara istilah: Hadirnya hati ketika menghadap Allah, tenangnya anggota badan, serta sadar dan memahami apa yang dibaca dan dilakukan dalam shalat.

Khusyuk itu:

Hati merasa dia sedang berdiri di hadapan Allah.

Lisan membaca dengan sadar.

Anggota badan bergerak dengan tenang.

Jiwa merasa kecil dan hina di hadapan kebesaran-Nya.

Nabi ﷺ bersabda (riwayat At-Tabrani):

“Perkara pertama yang akan diangkat dari umat ini adalah kekhusyukan.”

Artinya, shalat masih ada, gerakan masih ada, tapi ruhnya perlahan hilang.

Pengaruh Khusyuk dalam Shalat

Menenangkan jiwa Shalat yang khusyuk menjadi obat kegelisahan. Hati yang resah menjadi tenteram.

Mencegah perbuatan keji dan mungkar Allah berfirman:

“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (QS. Al-Qur'an 29:45)

Tetapi yang mencegah adalah shalat yang hidup, bukan sekadar gerakan.

Mengangkat derajat di sisi Allah Shalat yang khusyuk menjadi cahaya di dunia dan akhirat.

Mendekatkan diri kepada Allah Terutama saat sujud. Nabi ﷺ bersabda:

“Keadaan paling dekat seorang hamba kepada Rabb-nya adalah ketika ia sujud.”

Kiat Meraih Khusyuk dalam Shalat 1️⃣ Melakukan Persiapan Sebelum Shalat

Khusyuk tidak datang tiba-tiba. Ia harus dipersiapkan.

Berwudhu dengan tenang.

Datang lebih awal ke masjid.

Meninggalkan kesibukan dunia sejenak.

Menghadirkan niat: “Aku akan bertemu Allah.”

Buya Hamka sering menekankan: hati harus lebih dulu sujud sebelum dahi menyentuh bumi.

2️⃣ Thuma’ninah (Tenang dalam Gerakan)

Jangan tergesa-gesa. Rukuklah dengan sempurna. Bangkit dengan tenang. Sujudlah dengan penuh tunduk.

Shalat yang cepat tanpa ketenangan akan menghilangkan ruhnya. Nabi ﷺ pernah menyuruh sahabat mengulangi shalatnya karena tidak thuma’ninah.

3️⃣ Tartil dalam Bacaan

Allah berfirman:

“Dan bacalah Al-Qur’an dengan tartil.” (QS. Al-Qur'an 73:4)

Jangan terburu-buru membaca. Huruf dijaga. Makna diresapi.

4️⃣ Tadabbur Bacaan

Ketika membaca Al-Fatihah, sadari bahwa itu dialog dengan Allah.

Ketika membaca ayat tentang surga — hadirkan harapan. Ketika membaca ayat tentang neraka — hadirkan rasa takut.

Shalat bukan sekadar membaca, tapi merasakan.

5️⃣ Menghayati Sujud

Sujud adalah puncak kehinaan diri.

Letakkan dahi di tanah dengan perasaan: “Aku ini hamba yang lemah, ya Allah.”

Perbanyak doa ketika sujud. Rasakan kedekatan itu.

Di sinilah kekhusyukan sering memuncak.

Menghilangkan Gangguan yang Melemahkan Khusyuk

Singkirkan gangguan lahiriah

Matikan HP.

Pilih tempat yang tenang.

Hindari pakaian yang mencolok.

Kurangi gangguan batin

Jangan shalat ketika sangat lapar.

Jangan shalat ketika menahan buang air.

Hindari pikiran dunia dengan menyerahkannya kepada Allah sebelum takbir.

Latih hati secara bertahap Khusyuk bukan hasil sekali jadi. Ia hasil latihan.

Renungan

Khusyuk itu bukan berarti tidak merasakan apa-apa. Khusyuk adalah ketika hati lebih merasakan Allah daripada merasakan dunia.

Jika Sayyidina Ali tidak merasakan sakit karena tenggelam dalam shalatnya, itu karena cinta kepada Allah telah memenuhi hatinya.

Shalat yang khusyuk bukan hanya memperbaiki ibadah, tetapi memperbaiki hidup.

Mari kita bertanya pada diri sendiri: Sudahkah hati kita ikut shalat bersama tubuh kita?

Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang disebut-Nya:

“Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, yaitu yang khusyuk dalam shalatnya.”

Aamiin 🤲... semoga kita melaksanakan sholat dalam keadaan khusyuk yang luar biasa aamiin...

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post