YONNEDI.M. S.Ag,.M.Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web

surat terbuka dan bantahannya ....

Surat Terbuka untuk Muhammadiyah Tinjauan Ulang terhadap Konsep Mathla’ Global (KHGT) dalam Perspektif Hadis Kebersamaan Id Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Pengantar Persatuan umat Islam adalah cita-cita yang selalu kita dambakan. Namun persatuan bukan sekadar keseragaman angka dalam kalender. Ia adalah kebersamaan yang hidup, terasa, dan nyata dalam satu komunitas yang berbagi waktu, ruang, dan praktik ibadah yang sama. Ketika gagasan Mathla’ Global atau Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) diajukan sebagai simbol persatuan dunia Islam, muncul pertanyaan mendasar: Apakah keseragaman tanggal lintas zona waktu benar-benar sejalan dengan makna kebersamaan yang diajarkan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ? Ataukah kebersamaan yang dimaksud Nabi justru terikat pada komunitas waktu masing-masing, sebagaimana struktur ibadah dalam syariat ? Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menolak ijtihad siapa pun. Ia hadir sebagai AJAKAN untuk MENIMBANG KEMBALI—secara ilmiah dan santun—antara persatuan simbolik global dan kebersamaan substantif yang hidup dalam satu negeri. Oleh karenanya tulisan diberi judul, Tinjauan Ulang terhadap Konsep Mathla’ Global (KHGT) dalam Perspektif Hadis Kebersamaan Id Tulisan ini disampaikan sebagai bagian dari tradisi ilmiah dalam Islam yang menghargai ijtihad sekaligus membuka ruang dialog. Upaya menghadirkan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) lahir dari cita-cita persatuan umat yang patut dihargai. Namun dalam kerangka ushul fiqh dan maqāṣid al-syarī‘ah, setiap ijtihad tetap terbuka untuk ditinjau ulang secara metodologis. Tinjauan ini berangkat dari sabda Rasulullah ﷺ yang diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu anha dalam Jami' at-Tirmidzi: يَوْمَ يُفْطِرُ النَّاسُ وَالْأَضْحَى يَوْمَ يُضَحِّي النَّاسُ “Idulfitri adalah hari ketika manusia (secara kolektif) berbuka, dan Iduladha adalah hari ketika manusia (secara kolektif) berqurban.” Hadis ini mendefinisikan makna syar‘i hari raya sebagai peristiwa kolektif. Id bukan sekadar penanda astronomis, tetapi momentum kebersamaan umat dalam satu komunitas hidup I. Perbedaan Bayān Wasīlah dan Bayān Māhiyyah Dalam diskursus kalender Hijriah, seringkali sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam إِنَّا أُمَّةٌ أُمِّيَّةٌ لَا نَكْتُبُ وَلَا نَحْسُبُ “Sesungguhnya kami adalah umat yang ummi; tidak menulis dan tidak menghitung.” dikaitkan langsung dengan hadis kebersamaan Id. Namun secara metodologis, hadis “ummi” dan hadis kebersamaan Id berada pada dua ranah yang berbeda dalam struktur hukum syariat. Hadis “ummi” berada pada ranah bayān wasīlah (penjelasan sarana/metode). Ia menjelaskan metode praktis penetapan awal bulan pada masa itu, yakni melalui rukyat, serta menggambarkan kondisi umat saat itu. Adapun hadis kebersamaan Id berada pada ranah bayān māhiyyah (penjelasan hakikat/definisi). Ia tidak membahas metode penentuan awal bulan, melainkan mendefinisikan hakikat hari raya sebagai peristiwa kolektif. Dalam ushul fiqh, sarana (wasīlah) tidak identik dengan hakikat (māhiyyah). Sarana dapat mengalami perkembangan sesuai konteks, sedangkan hakikat ibadah tetap menjadi rujukan normatif. Oleh karena itu mencampur keduanya berarti mencampur antara metode dan definisi dalam struktur hukum syariat. II. Hadis Rukyat dan Keumumannya Rasulullah ﷺ juga bersabda: صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ “Berpuasalah karena melihatnya (hilal) dan berbukalah karena melihatnya.” Hadis ini bersifat umum (‘ām) dalam menetapkan sebab masuknya bulan. Lafaznya tidak merinci batas geografis dan tidak menegaskan cakupan wilayah keberlakuannya. Namun dalam ushul fiqh, dalil umum tidak dipahami secara terpisah dari dalil lain. Ia harus dipadukan dengan nash yang menjelaskan dimensi sosial pelaksanaan ibadah, termasuk hadis tentang kebersamaan Id. Dengan demikian, rukyat sebagai sebab masuknya bulan tidak dapat dilepaskan dari prinsip kebersamaan umat dalam pelaksanaannya. III. Qiyās Fiqh Waktu: Qurban dan Lokalitas Qurban adalah ibadah mu’aqqat (terikat waktu). Waktunya: • Dimulai setelah shalat Id setempat • Dilaksanakan pada siang hari • Berakhir saat matahari terbenam di wilayah tersebut Ulama dari mazhab Hanafi, Ibnu Abidin dalam Radd al-Muhtar menyatakan: فالظاهر إنها كأوقات الصلاة يلزم قوم العمل بها “Menurut zhahirnya, (waktu qurban) itu seperti waktu-waktu shalat; setiap kaum wajib mengamalkannya sesuai waktunya Beliau melanjutkan: فتجزئ الأضحية في اليوم الثاني عشر وإن كان على رأي غيرهم هو الثالث عشر “Penyembelihan sah pada hari kedua belas meskipun menurut pendapat negeri lain itu sudah hari ketiga belas.” (Radd al Mukhtar 2/394). Pernyataan ini mengandung qiyās yang jelas: • Aṣl: Shalat, mengikuti matahari lokal • Far‘: Qurban • ‘Illat: Sama-sama ibadah yang terikat fenomena kosmik • Hukm: Mengikuti waktu masing-masing wilayah Sebagaimana shalat mengikuti posisi matahari lokal, demikian pula qurban mengikuti sistem waktu masing-masing wilayah. Jika Idul Adha adalah hari ketika manusia berqurban, dan qurban waktunya bersifat lokal, maka kebersamaan Id secara implisit TERIKAT pada mathla’ masing-masing. Ini merupakan dalālah iltizāmiyyah — makna implisit yang melekat pada struktur hukum ibadah. IV. Ikhtilaf Mathla’ dalam Fiqh Klasik Pengakuan terhadap perbedaan ufuk bukanlah gagasan baru (modern) Ulama dari mazhab Maliki, Al-Qarafi dalam Al-Furuq menyatakan: إذا تقرر الاتفاق على أن أوقات الصلوات تختلف باختلاف الآفاق... فيلزم ذلك في الأهلة "Telah diketahui adanya kesepakatan bahwa waktu shalat berbeda karena perbedaan ufuk… maka hal itu berlaku pula pada hilal.” Beliau menjelaskan secara astronomis: فما تصل الشمس إلى أفق المغرب إلا وقد خرج الهلال من الشعاع، فيراه أهل المغرب، ولا يراه أهل المشرق “Ketika matahari sampai di ufuk barat, hilal telah keluar dari cahaya silau sehingga terlihat oleh penduduk barat, sementara penduduk timur tidak melihatnya.” (Al Furuq 2/204) Pernyataan ini menegaskan bahwa perbedaan keterlihatan hilal adalah konsekuensi kosmik dari perbedaan geografis. Dengan demikian, ikhtilaf mathla’ adalah keniscayaan ilmiah yang telah diakui dalam khazanah fiqh klasik. V. Maqāṣid al-Syarī‘ah dan Persatuan Substantif Hari raya adalah syiar agama (sha‘ā’ir). Ia berkaitan dengan: • Hifẓ al-dīn (menjaga agama) • Stabilitas sosial umat (niẓām al-ummah) Persatuan yang dikehendaki syariat bersifat substantif dalam komunitas nyata. Dalam ibadah mu’aqqat, syariat menghormati struktur kosmik lokal. Oleh karena itu kebersamaan Id secara metodologis lebih dekat kepada persatuan dalam satu sistem waktu yang sama daripada keseragaman global lintas zona. VI. Konteks Indonesia dan Kaidah Penyelesaian Khilaf Indonesia membentang luas dari Barat hingga Timur. Secara astronomis terdapat potensi perbedaan keterlihatan hilal antar wilayah. Apakah dalam situasi seperti itu umat Islam di Aceh berpuasa dan berlebaran lebih dahulu dibandingkan umat Islam di Papua? Pertanyaan ini menunjukkan bahwa persoalan mathla’ bukan sekadar teori, tetapi memiliki implikasi sosial nyata. Dalam perkara ijtihadiyah seperti ini berlaku kaidah: حكم الحاكم يرفع الخلاف “Keputusan otoritas yang sah mengakhiri perbedaan.” Ikhtilaf mathla’ diakui secara ilmiah, tetapi dalam satu wilayah hukum, kesatuan keputusan lebih mendekati maqāṣid persatuan sosial. VII. Penyatuan Nasional dan Realisme Fiqh Penyatuan kalender Hijriah tidak harus bersifat global untuk dianggap mewujudkan persatuan umat. Penyatuan pada tingkat nasional atau wilayah hukum justru lebih selaras dengan tuntunan hadis, realitas astronomi, dan prinsip fiqh klasik. Upaya yang sedang ditempuh Kementerian Agama Republik Indonesia untuk menyatukan penanggalan Hijriah di tingkat nasional patut dipahami dalam kerangka ini, bukan menolak persatuan umat secara global, tetapi menegakkan kebersamaan yang realistis dan bersandar pada sunnah Nabi Muhammad ﷺ . Perbedaan hilal adalah keniscayaan ilmiah. Namun perpecahan hari raya dalam satu negeri bukanlah pilihan yang lebih mendekati maqāṣid persatuan. Islam tidak menuntut keseragaman global yang mengabaikan konteks geografis, melainkan menegaskan kebersamaan umat dalam ruang hidupnya masing-masing. Hilal boleh berbeda karena perbedaan ufuk adalah realitas kosmik. Namun dalam satu negeri, Id seyogianya tetap satu. Penutup Tulisan ini bukan penolakan terhadap ijtihad, melainkan ajakan untuk menimbang kembali secara metodologis: apakah keseragaman global lebih mendekati tuntunan Nabi ﷺ dibanding kebersamaan substantif dalam komunitas waktu masing-masing? Semoga dialog ilmiah ini memperkaya khazanah pemikiran dan memperkuat ukhuwah Islamiyah. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Zon di Jonggol, Kabupaten Bogor 16830 bantahannya... Pemikiran anda dihargai, tp berpikirnya muhmmadiyah jauh melampaui berpikir anda. 5 jam Suka Balas 55 Lihat semua 7 balasan Didik Muttaqien Kalender Masehi global, kenapa Hijriyah tdk bisa ???!! Ayolah...jgn jumud. Bulan bumi cuma satu..mengapa berbeda ??! Kelihatan benar atau salahnya ketika purnama...yg sdh pasti tgl 15. Kalau dalil cuma rukyat, menyesuaikan zaman nabi, dalam sholat 5 waktu berarti kita harus rukyat, panteng teropong kalau matahari tertutup awan ? Perhitungan jam tak berlaku ! 5 jam Suka Balas 28 Lihat semua 4 balasan Kurdi Arrasidah Said Aqil Siraj pernah mengatakan,segala urusan harus dipegang oleh NU (politisi NU )..kalau dipegang oleh fihak lain selain NU,tidak akan beres. !!! S A S ,pegang PT KAI , YAQUT Pegang Kemenag /cq Dana haji & kuota. , Emangnya beres. ????? Beres apa beres. ???? 5 jam Suka Balas 27 Lihat semua 6 balasan Ridwan Erli Dulu Kh Ahmad Dahlan meluruskan arah kiblat di caci di hina namun sekarang semua mengakui,khgt juga berjalan nya waktu akan diterima sebagai solusi persatuan umat Islam dunia dan keseragaman dalam beribadah,dan tidak ada lagi uang pajak rakyat dibuang 2 percuma dgn segelintir elit rukyat yg menikmati nya 5 jam Suka Balas 22 Lihat semua 2 balasan Muhammad Riza · Ikuti Pokoknya kalau ada prinsip menyatukan umat Islam ada saja yg menolak agar umat ini tidak bersatu yg dibungkus dgn bla2. Ayo kita dukung Kalender Global Hijriah Tunggal. KHGT 5 jam Suka Balas 39 Suherman S Sos I · Ikuti Fokus ibadah romadhon, jgn antum copy paste pendapat pemaparan antum dari pengajian antum, antum kalau mau tau gabung dgn Muhammadiyah supaya lebih cerdas, jangan mengurusi persoalan ini kalau bukan ahlinya 5 jam Suka Balas 28 Agus Arifin Monggo nggih datangi saja PP Majelis Tarjih Muhammadiyah kita diskusi secara terbuka, jangan di medsos 5 jam Suka Balas 15 Rewang Radja Kontributor all-star Surat terbuka yang sangat baik dan mendalam. Ini adalah kontribusi ilmiah yang patut diapresiasi. Ada beberapa catatan: Poin-poin yang sejalan: • Persatuan substantif lebih utama dari sekadar keseragaman angka. Muhammadiyah setuju. • Perbedaan mathla' adalah realitas ilmiah yang diakui dalam khazanah fiqih. • Kaidah hukmul hakim relevan untuk menyatukan dalam satu wilayah. Catatan kritis untuk didiskusikan lebih lanjut: • Distingsi bayān wasīlah dan bayān māhiyyah memang penting, tapi perlu dicatat bahwa dalam ibadah mu'aqqat, wasīlah dan māhiyyah tidak bisa dipisahkan secara kaku. Metode menentukan waktu adalah bagian integral dari pelaksanaan ibadah itu sendiri. • Qiyas qurban dengan shalat memang menarik, tapi qurban adalah ibadah yang terkait dengan ritual haji yang memiliki dimensi global. Ulama berbeda pendapat tentang apakah qurban mengikuti mathla' lokal atau mengikuti Arafah . • Tentang "kebersamaan dalam satu negeri", frasa an-nās dalam hadits Aisyah bersifat umum. Apakah ia terbatas pada satu negeri atau mencakup umat sedunia? Ini kembali ke ijtihad. • KHGT tidak mengabaikan realitas lokal. Ia justru menawarkan sistem yang mengakomodasi perbedaan geografis melalui kriteria global, sehingga umat di Alaska dan Papua tetap dalam satu tanggal meski waktu shalatnya berbeda. • Indonesia sebagai nation-state adalah konstruksi modern. Membatasi kebersamaan pada batas negara adalah pilihan ijtihad, bukan keharusan syar'i. Para ulama klasik tidak pernah membahas "negara bangsa". Surat tersebut sangat baik untuk memicu diskusi ilmiah. Muhammadiyah tetap pada pendirian bahwa KHGT adalah ikhtiar mulia menuju persatuan global tanpa mengabaikan realitas lokal. Perbedaan ini adalah ikhtilaf ijtihadi yang wajar. Mari terus berdialog dengan adab dan data. Wallahu a'lam. 3 jam Suka Balas 8 Adi Unang Ahmadi Justeru dengan KHGT Muhammadiyah mengajak kompak secara global, bukan lokal. Negara hadir hanya di tiga bulan saja saat isbat, kemana di bulan lainnya ? Masehi masih konsist Kenapa Hijriyah masih galau ? 5 jam Suka Balas Diedit 14 Lihat semua 2 balasan Amril Chan Kontributor all-star Muhammadiyah tidak perlu di gurui Krn Muhammadiyah dari awal tujuannya adalah mencerdaskan bangsa yg selalu berpatokan kpd sistem lama yg sdh usang dan sdh ketinggalan jauh cara berpikirnya.. Muhammadiyah sdh slalu mengikuti ilmu pengetahuan moderen dan berani merubah hal2 lama yg sdh ketinggalan zaman...jadi KLO anda g setuju dgn keilmuan Muhammadiyah mestinya anda berpikir lebih maju..dan bermartabat... 4 jam Suka Balas 13 Romo Romo Kontributor naik daun Maaf ikut2 tan Diterangkan dalam hadist. Berpuasalah karena melihat (hilal) dan berbukalah karena melihat hilal. Metode ini bagus tapi sampe sekarang cuma yg di ambil cuma awalnya saja (Berpuasalah karena melihat (hilal) dan yang tidak pernah di lakukan ( dan berbukalah karena melihat hilal.) Ini yang saya ragu mau mengikuti tidak sesui hadis. Apakah untuk membedakan umat. Di negara ini seharusnya kalo sesuai hadist ayuh saya ikut, tapi jangan mengambil hadist awslnya saja tapi belakangnya juga, saya mau mengikuti sorena mau buka ko tidak ada yang Rukyat adanya magrib jam. 18.05, Awalnya Rukyat ahirnya Hisab saya jadi ragu, yang betul yg mana. Saya minta kepada pemerintah mohon kalo pake metode Rukyat setiap sore seharusnya ada petugas untuk melihat hilal apakah sudah masuk untuk berbuka Maaf saya orang bodo perlu belajar lagi. 2 jam Suka Balas Diedit 4 Moh Ihsan Konsep nasional saja sudah tidak sesuai syariat. Syariat justru memerintahkan pemerintahan global. Lantas bagaimana kita mendasarkan pada sesuatu yang tidak disyariatkan? 5 jam Suka Balas 7 Haris Ar Sy Kontributor populer Wa'alaikumsalam wr wb... Kebersamaan bersama dengan yang lokal yang korupsi korupsi Pengadaan Al Qur'an, lalu kuota haji, lalu yang mesra dengan Yahudi, kemudian kebersamaan juga dengan yang suka jogetan, suka ngalap berkah kuburan, sesajenan... Mungkin yang nulis surat terbuka ini mainya kurang jauh, negara yang mulai puasa Rabu ada Afganistan, Arab Saudi dan Palestina.. Yang mulai kamis ada Mesir, Syria dan Yordania... Level negara saja ada Perbedaan juga tidak masalah, toh Pemerintah juga memberikan ijin utk Perbedaan kami yang mulai puasa hari Rabu, Naqsabandiyah mulai Puasa hari Selasa dan perlu diingat toh kelak Nabi Muhammad akan memberikan syafaat kepada umatnya bukan karena perbedaan penentuan puasa apa lebarannya.... Jadi usul boleh tapi jangan mengajari Muhammadiyah.... Kami mendukung pemakaian Kalender Global.... 4 jam Suka Balas Diedit 3 Yusuf Hendri Dalam kedudukan bumi yg sama apa mungkin ada kalender berbagai macam yg dikeluarkan oleh negara masing2 padahal kita ketahui selisih siklus rotasi itu 24 jam, jadi sangat tidak mungkin ada selisih lebih dari 24 jam. Jika kita mengambil hadist utk rukyah bila ada satu orang saja dibelahan bumi yg sudah bisa melihat bulan maka diputuskan utk menjalankan puasa sebagai ujud pergantian tanggal atau bulan tentu akan menjadi sama semua proses puasa tinggal selisih waktu pergantian jam diseluruh permukaan bumi ini 4 jam Suka Balas 3 Sainuddin Lima Tujuh Karena tulisan ini sifatnya ajakan, maka jawabannya, ajakan di tolak... 3 jam Suka Balas 3 Siti Markonah Suatu masa sbelum hari ahir penyatuan ummat muslim sedunia akan terjadi yg di pimpin oleh Imam Mahdi seluruh ummat Muslim akan makmur sejahtera seperti ketika jaman Rosululloh dan para Sahabat tetapi tetap ada yang meng ingkari mengikuti padukan dajjal dg tipu dayanya dan Muhammadiyah sudah mulai merintis ke arah bersatunya Ummat Muslim. "Muhammadiyah keren" 4 jam Suka Balas 3 Satiman Abu Nasywah Langsung ke PP Muhammadiyah saja. 5 jam Suka Balas 7 Lihat semua 5 balasan Abi Fauzan Kurnia · Ikuti Menolak persatuan demi pertbedaan .....? Terlalu mundur......? Atau memang keterbatasan berpikir.....? Teruslah maju Muhammadiyah ku ..... 4 jam Suka Balas 5 Hermansyah Rambang Urus saja urusanmu dan keyakinanmu..Muhammadiyah TDK pernah memaksa anda menggunakan KHGT dan anda TDK berhak mengusik kami.Jsngan memaksakan kehendak KPD orang lain.Kenapa anda merasa terusik..benih kebencian rupanya ada dihatimu 3 jam Suka Balas 3 Suj Oto Cerdas yang berkemajuan itu penting namun tidak semua orang cerdas mampu berkemajuan. 4 jam Suka Balas 3 Akmal Arasy · Ikuti Umat islam akan terus berbeda ketika tidak ada khalifah ditengah tengah kaum muslimin 5 jam Suka Balas Diedit 2 Wahyu Danil Sikoembang Yang mengkritisi KHGT pasti takut kehilangan job. 2 jam Suka Balas Salihin Mizal Ruang dialog dan diskusi yg melahirkan solusi mencerahkan ummat adalah ciri khas warga perserikatan, krn itu Muhammadiyah bersuha dg sungguh2 agar ummat islam ini mempunyai kekekuatan sekaligus kemampuan mewujudkan visi/misi sbg "rahmatallil'alamin" salah satu ikhtiar itu adalah diberlakukannya KHGT. Salam sukses kemajuan dan mencerahkan 3 jam Suka Balas 4 Bernafis Ahmad Kemajuan ilmu muhammadiyah sudah terlalu jauh utk ditimbang.. 5 jam Suka Balas 5 Rizky Abu Jibril Mari kita bikin gampang. Kenapa hari ini tidak ada yg melihat matahari bayangan dan langit utk menentukan waktu shalat? Krn sudah ada hisab dan kita semua percaya angka jamnya. Jd? 1jam Suka Balas Sukri Yakub Kontributor naik daun Menentukan awal Ramadhan dan Idul Fitri adalah proyek kementerian agama, menyusahkan rakyat saja, karena itu dengan cara HISAB hitungan lebih baik dan mudah, tapi tidak ada duitnya. 1jam Suka Balas 2 Adi Andaikan dulu jaman nabi Muhammad seluruh umat di dunia sudah beragama Islam atau Islam sudah dipeluk umat manusia secara merata di bumi ini, apakah tidak mungkin berlaku kalender hijriah global? 4 jam Suka Balas 4 Lihat semua 2 balasan Sudarman Madmasrum Sanmenawi Kontributor populer Dulu saat Kh Ahmad Dahlan Berjuang meluruskan arah kiblat Beliau di caci maki di hina Bahkan Banyak masjid & musholah Muhammadiyah tidak sedikit yg dibakar manusia berhati picik Dan butuh waktu seabad lamanya ummat islam diluar warga muhammadiyah semua mengakui , Saat ini Muhammadiyah dg KGHT diolok" dicaci maki In syaa Alloh dg berjalan nya waktu akan diterima sebagai solusi pemersatu Umat Islam Dunia KGHT Adalah jawaban atas PR Peradaban. #muhammadiyahmencerahkan #muhammadiyahberkemajuan 1jam Suka Balas Diedit 2 Sahrul Badri Kl begitu pendapat anda kita mundur kebelakang lagi lihat kelender masehi sdh seragam banding kelender hijriah dan indonesia aja berbeda beda, disini pentingnya persaudara umat islam bukan skala kecil 4 jam Suka Balas Isnaini P R Berpuasa KARENA melihat hilal atau mempuasai munculnya hilal itu perbuatan musyrik. Berpuasa itu ibadah untuk Alloh semata bukan karena melihat hilal. Hilal bisa di lihat itu pertanda awal bulan atau bulan baru sudah sekali lagi sudah masuk. 5 jam Suka Balas Lihat semua 4 balasan Rosdiani Rambe Ini orang merasa sok paling pintar dan paling benar dan merasa paling Nkri kalau masalah ibadah jangan paksakan kehendakmu didlm Uud 45 ada diatur dlm psl 29 ayat 2 dlm Al qur an di suroh Al kapirun Lakum dinukum waliyadin 3 jam Suka Balas Akso berpikir global sebagai warga dunia 4 jam Suka Balas 2 Husain Bande Pisik bulan itu hanya 1 ( satu), tunggal, tidak plural. Yang plural itu cara kita melihat, memahami, dan menghitung posisi bulan. Menurut ahli, setidaknya ada 3 (tiga) faktor penyebab yg kerap memicu terjadinya perbedaan dikalangan umat islam dalam menetapkan tanggal sakral, yaitu 1 Ramàdan, 1 Syawal, dan 1 Zulhijah. Yaitu : faktor fiqih, astronomi, dan politik. Dan kalangan yg berbasis pada fiqih dan teks klasik semata dalam menetapkan tanggal" tsb di atas akan cenderung mementingkan teks dan- prosedur ketimbang fakta dan substansi. Sedangkan kalàngan yg menggunakan pendekàtan astronomis akan lebih mengedepankan fakta dan substansi. Sementara pendekatan politik lebih cenderung mempertimbangkan kondisi sosiàl politik dan budaya, dan meng àbaikan substansi dan fakta astronomis. 3 jam Suka Balas Sopandi Datang ke kantornya pp muhammadiyah.jangan di medsos.jadilah pemberani 4 jam Suka Balas Pakde Wanda Kontributor naik daun Kalo scr logika waktu(jam) indonesia kan 4jam mendahuhului Mekah jadi kalo iromaflon di mekah tgl 18 pebruari berarti Indonesia tgl 18 juga,tak mungkin khusus romadlon jadi berubah didului waktu arab tapi oni logiku orang awam lho 3 jam Suka Balas 2 Mustafa Waktu2 sholat yang merupakan hasil HISAB sudah bisa diterima umat, maka tugas berat Muhammadiyah hari ini bagai mana KHGT, bisa diterma umat di Dunia. 4 jam Suka Balas Andima Longkali Kontributor naik daun Cuma mau bilang, "Selamat yaa udah berdamai dg salahpi di rumah besar Muhammadiyah, husst...ini bln puasa jgn lagi selalu bertengkar yaa nnti puasanya cuma dpt lapar dan haus, pahalanya ZONK..." 4 jam Suka Balas Djam Maah · Ikuti Silahkan datang ke Majelis Tarjih PP MUHAMMADIYAH kalo perlu bawa kitab buku apa pun utk diskusi..tulisan anda sudah digugurkan oleh bukti ilmiah dan bukti riwayah.. 2 jam Suka Balas Purwi Lestari Handayani Kontributor naik daun · Ikuti Salah masuk group. Gak pede bikin grp sendiri 4 jam Suka Balas OK Nasrun Effendi Kontributor populer Khawatir tu ilang PROYEK 5 jam Suka Balas 3 Lihat 1 balasan Surya Nagari Sebelum menggunakan KHGT Muhammadiyah menggunakan hisab hakiki wujudiul hilal dgn matlak lokal...alhasil juga didebat dan dipertanyakan...sebenarnya orang orang semacam itu bukan mencari kebenaran tetapi bth pembenaran diri nya sendiri 42 menit Suka Balas Raharjo Penyuluh Sum Sel · Ikuti Mari bersama untuk memulai menyatukan Umat Islam Dunia. Bukan memelihara pengkotakan 3 jam Suka Balas Anjar Santoso Perdana Bila mau berdiskusi langsung ke sumber nya... bukan dimensos 5 jam Suka Balas 2 Lihat 1 balasan Adnan Kusuma Kontributor all-star Rukyat hilal koq hanya untuk 3 bulan saja...itu juga dibatasi 3 derajat saja....dan hanya 4 negara saja 4 jam Suka Balas Daison Agmal Kontributor all-star ADA PULA YANG MERASA PINTAR........., MAU MENGAJARI BEBEK BERENANG 42 menit Suka Balas Chairul Anwar 5 jam Suka Balas 5 Atikah Zahidah Tek Kontributor naik daun Persatuan itu dg tauhid sunah sj Sedang perpecahan itu krn adanya syirik .bidah..tidak akan pernh bisa bersatu syirik bidah dg tauhid sunah... Dan tidak akan bisa menperbaiki manusia kecuali dngan manhaj salaf... Bisa anda buka diulama haramain bicara ini... 5 jam Suka Balas Diedit 3 Lihat semua 5 balasan Ridwan Muksin Jantung Pisang Salafi lagi tu 1jam Suka Balas Hud Hud Ki Zon Di Jonggol realitas astronomi geografis Indonesia yang bagaimana? Ada berapa perbedaan waktu di Indonesia? Jika konsisten,, hilal yang terlihat di aceh, tidak boleh diikuti oleh wilayah waktu WITA dan WIT 2 jam Suka Balas Ahmad Muslih Simpel aja,,,,Kebenaran bisa tarik mundur dari tanggal 15 purnama,,,yg kurang dari 15 berarti yg salah 1jam Suka Balas Jumi Yati Pengalaman selama ini ,awal Ramadhan selalu di dahului Muhammadiyah dan selalu di perdebatkan,tetapi ketika Muhammadiyah lebaran Idul fitri, sering bersamaan, mestinya tdk begitu, dari awal harus konsisten dg waktu, mestinya mundur juga lebarannya. Nah di mana letak....kesalahannya, yg pakai metode Hisab atau Rukiyat hilal 1jam Suka Balas Domi Arrifai Kontributor populer KHGT adalah solusi, harusnya yg ikhtilaful matholi' lah yg mengikuti ittihadul matholi'. Karena ittihadul matholi' lebih menyatukan dr ikhtilaful matholi' 30 menit Suka Balas Erick Wilandjana Dia lebih aman bersemayam dan berfatwa dari 'Jonggol!' karena Mathlak nya seputar Cariu, Gunungputri lebih rame ke Cileungsi atau terinspirasi dari dari perbukitan Cikalong Kulon arah persawahan sampai pusar-pusat komunitas Cibubur, jadi agak sulit untuk berbicara kesatuan dan persatuan ummat Islam global. 2 jam Suka Balas Noer Choliesh Al Machtoemy Ini nulis nya 7 hari 7 malam kayak nya cari referensi dulu biar kuat dan masuk akal .....kalo mau Langsung ajah mas ke PP Muhammadiyah kayak nya lebih beradab di banding kan dg di medsos mas,,,, sekelas Gus Baha saja mengakui kok ilmu hisab hitungan nya sangat presisi.ente Gus siapa? Oke mas langsung ke PP Muhammadiyah ajah yah.....jgn tdr kalo nanti di terangkan disana yaaa 4 jam Suka Balas Fahri Ansyah KHGT ADALAH IJTIHAD KOLEKTIF DAN KUMULATIF, DAM INI LEBIH REFRESENTATIF DARIPADA IJTIHAD INDIVIDUAL DAN PARSIAL 3 jam Suka Balas Ahmad Mukarom Kenapa QS Al Baqarah ayat 185 tidak dijadikan pertimbangan dalam surat terbuka.... Perintah puasa Ramadhan yg spesifik sangat jelaspada ayat itu. فمن شهد منكم الشهر فليصمه.... 1jam Suka Balas Muhar Ta Sudahlah...Muhammadiyah punya Majelis yaitu Majelis Tarjih Muhammadiyah yang melakukan penelitian ilmiah sebelum mengeluarkan fatwa. 3 jam Suka Balas Sumadi Aji Kontributor populer Coba kasih masukan juga bagaimana caranya umat islam bisa spt umat atau bangsa lain yg bisa mempunya kalender sma 1 hari satu tanggal.kalau tdk berusaha ke arah sana ya selamanya spt ini 3 jam Suka Balas Muhdar Leumara Hadis nabi tentang kami umat yang ummi belum.pandai menulis dan belum pandai menghitung! Makna hadis itu mafhum mukhalafah (pemahaman terbalik) artinya suatu saat umat Islam sudah pandai menulis dan sudah pandai menghitung maka rukyah boleh ditinggalkan. Itu pesan nabi. Nabi paham tentang masa depan umatnya. 2 jam Suka Balas Zakaria Tambuh Langsung aja ajukan resmi 5 jam Suka Balas Ridwan Yaman Gerhana saja sudah bisa diprediksi untuk kedepan puluhan tahun bahkan lebih akan terjadinya gerhana. Bumi bulan Dan matahari masing-masing selalu beredar pada porosnya. Kenapa di bulan Ramadhan dan bulan Syawal tidak bisa dihisab. Akan tetapi waktu untuk sholat bisa metode hisab yang dipakai ada apakah gerangan. 2 jam Suka Balas M Yazid Ini orangnya 2 jam Suka Balas M Yazid Ini orangnya 2 jam Suka Balas M Yazid Statemen nya ngacok 2 jam Suka Balas M Yazid Ini orangnya ngacok FB nya nama nya zon di zongol 2 jam Suka Balas Nuralim Ahzan Semua Ijtihad yang dilakukan oleh Muhammadiyah tidak ujud-ujud muncul tapi melalui serangkaian proses yang panjang dan rumit sehingga melahirka keputusan bersama melampaui cara dan arah pikiran kita secara umum serta melampaui juga cara berpikir anda. Salam akal sehat. 41 menit Suka Balas Arie Yohani Kontributor all-star Akun ini biasanya sibuk membela baalawi .. Tapi sekarang geser ke Muhammadiyah mencoba bikin gaduh .. Sudah kalah ya pertengkaran nya melawan Imad??? 3 jam Suka Balas Muhammad Nur Apeutung KLO pendapat pribadi anda silahkan SJ tp keputusan Muhammadiyah bukan keputusan pribadi tp keputusan organisasi. 4 jam Suka Balas Arif Fahmi Kontributor naik daun Yg paling sederhana, kenapa jum'atan musti bersama, kenapa gerhana matahari dn bulan semua serentak menyatakan kepastian datangnya hari dn waktu apa....salam sehat 2 jam Suka Balas Luqman Hakim 5 jam Suka Balas

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post