YONNEDI.M. S.Ag,.M.Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
usaha....

usaha....

Di Antara Dingin Senja dan Lampu IGD

Angin senja waktu itu berhembus pelan, menyusup di sela-sela dinding rumah kami. Dari lantai dua, aku duduk memandang sekeliling—atap rumah tetangga, jalanan yang mulai sepi, dan langit yang perlahan meredup. Senja selalu punya cara menenangkan hati.

Namun sore itu, ketenangan itu retak.

“Ibuk panas… tapi dingin juga,” suara istriku terdengar lirih dari belakang. Aku menoleh. Wajahnya pucat, matanya sayu, tubuhnya seperti menggigil.

Hari pertama kami hanya saling menenangkan. Kami mengira itu hanya masuk angin biasa. Maklum, sore itu kami pergi berdua naik motor—menempuh jarak hampir tiga puluh kilometer, berangkat sore dan pulang malam. Angin malam memang sering tak bersahabat.

Keesokan harinya, rutinitas tetap berjalan. Istriku berangkat ke tempat tugasnya. Aku pun berangkat bersama anak kami—masing-masing membawa motor sendiri. Anak kami berangkat lebih awal karena jaraknya lebih jauh. Aku dan istriku beriringan, berpisah di persimpangan menuju tempat tugas masing-masing.

Di kantor, kesibukan menelan waktu. Hingga pukul sepuluh pagi, sebuah pesan masuk di grup WhatsApp keluarga.

“Mama mendingin bana…”

Anak kami yang kuliah di Pekanbaru langsung membalas,

“Semoga Mama cepat sehat.”

Aku ikut menimpali, menyarankan air hangat—karena pagi itu cuaca memang dingin menusuk tulang.

Sore hari, saat pulang, aku mendapati istriku terbaring. Panas dan dingin masih datang silih berganti. Aku bergegas mencari obat, berharap esok keadaannya membaik.

Namun hari berikutnya justru menguatkan kekhawatiranku. Istriku memilih tidak berangkat tugas. Dari kantor, ia mengirim pesan: panasnya belum reda. Aku membalas singkat, tapi tegas: “Sore kita ke dokter.”

Kami pergi naik motor. Di ruang praktik, dokter banyak bertanya, mencatat keluhan, memeriksa tensi dan perut. Tapi hatiku terasa ganjil. Terlalu banyak tanya, terlalu sedikit alat yang bicara. Pulang dari sana, dokter berkata, “Ibuk pucat, kurang darah. Lihat tangan dan kakinya—dingin sekali.”

Kami membawa pulang obat. Malam itu dingin kembali menyerang. Aku mencoba mengobati dengan caraku sendiri—sedikit ilmu, sedikit ikhtiar. Panas hilang, lalu datang lagi. Dua malam kami lalui bersama dingin dan panas yang tak menentu. Aku dan anak kami hanya bisa memberi semangat, doa, dan ramuan tradisional.

Hari berikutnya aku tetap ke kantor. Istriku sudah dua hari tak masuk. Akhirnya aku mengambil keputusan: IGD.

Jam sepuluh pagi aku izin. Anak gadis kami kupanggil pulang lebih cepat dari sekolah—kami butuh bertiga. Rumah sakit selalu ramai; tak mungkin kami berdua saja.

Di IGD, dokter jaga memeriksa dan menemukan bengkak di dekat telinga. Darah harus diambil. Namun tangan dan kaki istriku dingin, pembuluh darahnya seperti menghilang. Lima kali tusukan gagal. Seorang perawat senior akhirnya berhasil—dari kaki.

Sambil menunggu hasil labor, dokter berkata pelan, “Ibu diduga abses mandibula. Bisa karena gigi berlubang dan bernanah.”

Diduga. Kata itu kembali menghantam telingaku.

Dokter menyarankan rawat inap. Aku terdiam. Anak sekolah. Pekerjaan menumpuk. Hari kerja masih panjang. Dengan berat hati, aku menandatangani surat penolakan rawat inap. Kami pulang membawa antibiotik dan harapan tipis.

Malam itu panas dan dingin masih datang. Bengkak mengecil tapi menyebar. Rasa sakit berkurang. Aku bertanya ke ChatGPT—aneh memang, tapi malam itu ia seperti teman diskusi. Ia menyebut anemia, tanda-tanda pemulihan, dan peringatan bahaya. Aku mengikuti sarannya, seolah kami dua dokter yang berdiskusi dalam sunyi.

Perlahan panas mereda. Dinginnya berkurang. Tapi muncul sesak—bukan berat, hanya seperti ada beban di dada. Malam itu kami nyaris kembali ke rumah sakit. Namun madu dan air jahe menenangkan keadaan. Kami selamat malam itu.

Pagi harinya, keputusan bulat: IGD lagi. Bukan THT, bukan gigi. IGD—tempat semua diperiksa.

Dokter piket berbeda. Darah diambil lagi—kali ini mudah. Dua jam kemudian hasil keluar.

“Typus.”

Aku tercengang. Rumah sakit yang sama. Labor yang sama. Selang tiga hari. Diagnosis berbeda. Pertanyaan berputar di kepalaku, tapi tak satu pun terucap.

Kami menunggu kamar. Kelas satu penuh, kata petugas. Aku dan istriku bersikeras. BPJS kami kelas satu. Akhirnya, pukul tiga sore, kami masuk—satu kamar, dua tempat tidur. Kosong. Hanya kami.

Tiga malam kami di sana. Tak ada pasien lain. Istriku semakin cerah. Antibiotik masuk lewat infus. Dokter penyakit dalam berkata, “Harus lima hari.”

Kami pasrah.

Hari Senin dokter lain datang, berkata, “Sudah boleh pulang.” Kami teringat pesan dokter pertama. Akhirnya diputuskan: obat dilanjutkan di rumah, satu hari lagi.

Siang itu, selepas Zuhur, kami pulang.

Aku menatap istriku. Wajahnya lebih hidup. Senyumnya kembali. Di antara dingin senja, lampu IGD, dan malam-malam penuh doa, aku belajar satu hal:

Kesabaran, ikhtiar, dan keyakinan—kadang datang dari tempat yang tak terduga.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post