YONNEDI.M. S.Ag,.M.Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
MEMBANGUN KESHALEHAN SOSIAL

MEMBANGUN KESHALEHAN SOSIAL

"""Membangun Keshalehan Sosial...

Di tengah kehidupan masyarakat sering kita mendengar ungkapan: “Kalau terlalu banyak sosial, nanti banyak pula sialnya.” Maksud dari ungkapan ini adalah bahwa orang yang aktif dalam kegiatan sosial—seperti ikut organisasi, menjadi pengurus kampung, RT, pemuda, panitia masjid, panitia qurban, atau panitia peringatan hari kemerdekaan—sering dianggap akan mendapat banyak beban dan masalah.

Sebagian orang akhirnya memilih hidup untuk dirinya sendiri. Mereka berkata: lebih baik waktu dipakai untuk bekerja, belajar, dan mencari kepentingan pribadi saja. Rapat kampung tidak pernah hadir, kegiatan sosial tidak diikuti, bahkan urusan masyarakat dianggap bukan tanggung jawabnya. Yang penting bagi mereka adalah kehidupan pribadi berjalan lancar.

Namun jika kita perhatikan lebih dalam, pandangan seperti ini tidak sepenuhnya benar. Justru dalam banyak kenyataan, orang yang aktif dalam kehidupan sosial sering memiliki kehidupan yang lebih luas, lebih bahagia, dan lebih dikenal oleh masyarakat.

Pengorbanan Orang yang Aktif Sosial

Orang yang memiliki jiwa sosial sering harus berkorban. Kadang pekerjaan di rumah belum selesai, tetapi ia harus datang menghadiri rapat masyarakat. Ketika masyarakat mengadakan kegiatan qurban, ia menjadi panitia. Saat peringatan hari kemerdekaan, ia ikut menyukseskan acara.

Ia lebih dahulu mengedepankan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi. Inilah bentuk pengorbanan yang tidak semua orang mampu melakukannya.

Sering kita melihat orang seperti ini hidupnya penuh senyum, mudah bergaul, dan memiliki banyak sahabat. Ia dikenal masyarakat sebagai orang yang peduli dan ringan tangan membantu orang lain.

Sebaliknya, ada pula orang yang tidak pernah terlibat dalam kegiatan sosial. Ia mungkin berhasil dalam bidang ilmu atau pekerjaan, memiliki kemampuan dan keterampilan yang tinggi, tetapi tidak dikenal oleh masyarakat. Hidupnya terasa sempit karena hanya berputar pada dirinya sendiri.

Dalam urusan agama pun terkadang ia hanya beribadah untuk dirinya sendiri. Ia tidak mau berbagi ilmu, tidak mau berdiskusi, dan tidak mau mendengar pendapat orang lain. Ia hanya mengikuti satu pendapat saja dan keras kepala. Sikap seperti ini membuatnya sulit bergaul dan sulit menerima perbedaan.

Padahal Islam adalah agama yang sangat menekankan kehidupan sosial.

Allah berfirman dalam Al-Qur’an:

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan ketakwaan.” (QS. Al-Maidah: 2)

Ayat ini menunjukkan bahwa manusia tidak boleh hidup sendiri. Kita diperintahkan untuk saling membantu dan bekerja sama dalam kebaikan.

Rasulullah SAW juga bersabda:

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Ahmad)

Hadis ini menegaskan bahwa ukuran kemuliaan seseorang bukan hanya ibadah pribadi, tetapi seberapa besar manfaatnya bagi orang lain.

Empat Kelebihan Hidup dalam Kehidupan Sosial

Jika seseorang aktif dalam kehidupan sosial yang baik, maka ada banyak manfaat yang akan diperoleh, baik bagi perkembangan jiwa maupun bagi kehidupan materi. Di antaranya adalah:

1. Jiwa Menjadi Lebih Luas dan Dewasa

Orang yang aktif dalam masyarakat akan belajar memahami berbagai karakter manusia. Ia belajar sabar, belajar mengalah, dan belajar menyelesaikan masalah bersama.

Hal ini membuat jiwanya menjadi lebih matang dan dewasa. Ia tidak mudah marah dan tidak mudah tersinggung karena sudah terbiasa menghadapi berbagai macam manusia.

Rasulullah SAW bersabda:

“Seorang mukmin yang bergaul dengan manusia dan sabar terhadap gangguan mereka lebih baik daripada mukmin yang tidak bergaul dengan manusia dan tidak sabar terhadap gangguan mereka.” (HR. Tirmidzi)

Hadis ini jelas menunjukkan bahwa bergaul dengan masyarakat adalah sesuatu yang lebih utama.

2. Memperluas Silaturrahmi

Aktif dalam kegiatan sosial berarti memperluas hubungan persaudaraan atau silaturrahmi. Semakin banyak kita berinteraksi dengan masyarakat, semakin luas pula jaringan persahabatan kita.

Dalam Islam, silaturrahmi memiliki keutamaan yang sangat besar.

Rasulullah SAW bersabda:

“Barang siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya maka hendaklah ia menyambung silaturrahmi.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ini menunjukkan bahwa hubungan sosial bukan hanya membawa manfaat duniawi, tetapi juga mendatangkan keberkahan dalam hidup.

3. Membuka Pintu Rezeki

Orang yang dikenal baik oleh masyarakat biasanya lebih mudah dalam berbagai urusan kehidupan. Ketika ia membutuhkan bantuan, banyak orang yang siap menolongnya.

Hubungan sosial yang baik sering menjadi jalan terbukanya rezeki. Banyak peluang pekerjaan, usaha, dan kerja sama yang muncul dari pertemanan dan silaturrahmi.

Karena itu orang yang aktif dalam masyarakat sering memiliki kehidupan yang lebih mudah dan lebih luas peluangnya.

4. Menumbuhkan Kepedulian dan Empati

Hidup dalam masyarakat membuat seseorang merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain. Ketika ada tetangga yang sakit, ia ikut membantu. Ketika ada musibah, ia ikut meringankan beban. Ketika ada kebahagiaan, ia ikut merasakan kegembiraan.

Inilah yang disebut dengan empati dan kepedulian sosial.

Rasulullah SAW bersabda:

“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi adalah seperti satu tubuh. Jika satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh ikut merasakan sakit.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menggambarkan bahwa kehidupan umat Islam seharusnya seperti satu tubuh yang saling merasakan keadaan satu sama lain.

Keshalehan dalam Islam bukan hanya keshalehan pribadi seperti shalat, puasa, dan ibadah lainnya. Keshalehan juga harus tercermin dalam kehidupan sosial.

Orang yang memiliki keshalehan sosial akan aktif membantu masyarakat, menjaga silaturrahmi, dan peduli terhadap keadaan orang lain. Ia tidak hanya memikirkan dirinya sendiri, tetapi juga memikirkan kepentingan bersama.

Pada akhirnya, orang yang hidup dengan jiwa sosial yang tinggi akan mampu merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain. Ia ikut merasakan kesedihan orang yang susah dan ikut merasakan kebahagiaan orang yang bahagia.

Inilah hakikat membangun keshalehan sosial, yaitu hidup bersama masyarakat dengan hati yang penuh kepedulian, saling membantu, dan memperkuat tali persaudaraan demi kebaikan bersama

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post