MEWASPADAI AJARAN SESAT
MEWASPADAI AJARAN SESAT
Islam adalah agama yang sempurna. Namun kesempurnaan itu tidak berarti semua manusia harus menempuh jalan yang sama dalam setiap cara mendekatkan diri kepada Allah. Cara dan metode boleh berbeda, tetapi pondasi tetap satu, yaitu aqidah tauhid: mentauhidkan Allah dan mengakui bahwa Nabi Muhammad ﷺ adalah utusan-Nya yang terakhir.
Sejak masa awal Islam, perbedaan cara memahami dan mengamalkan ajaran agama sudah terjadi. Bahkan pada masa sahabat Nabi sekalipun, terdapat perbedaan metode dan pendekatan. Akan tetapi perbedaan itu tidak menyentuh pokok aqidah. Mereka tetap bersatu dalam iman, bersatu dalam tauhid, dan bersatu dalam kecintaan kepada Rasulullah ﷺ.
Perbedaan Pendekatan di Kalangan Khulafaur RasyidinEmpat sahabat besar yang menjadi khalifah setelah wafatnya Rasulullah ﷺ, yaitu Abu Bakar Ash‑Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib, memiliki karakter dan pendekatan yang berbeda dalam membimbing umat.
Abu Bakar Ash-Shiddiq dikenal dengan pendekatan keimanan yang lembut dan penuh keyakinan. Ia menanamkan aqidah dengan keteladanan dan kesederhanaan. Ketika terjadi penolakan membayar zakat, beliau berkata tegas:
“Demi Allah, jika mereka menolak memberikan tali unta yang dahulu mereka berikan kepada Rasulullah, maka aku akan memerangi mereka.”
Sikap ini menunjukkan bahwa aqidah dan kewajiban agama harus dijaga dengan penuh ketegasan.
Umar bin Khattab memiliki pendekatan ketegasan hukum dan keadilan sosial. Beliau menegakkan agama dengan kekuatan hukum dan pemerintahan. Umar memahami bahwa kekuatan aqidah juga harus ditopang oleh keadilan dalam kehidupan masyarakat.
Utsman bin Affan dikenal dengan pendekatan kelembutan, ibadah, dan perhatian terhadap Al-Qur’an. Pada masa beliau dilakukan pengumpulan dan penyatuan mushaf Al-Qur’an agar umat tidak berselisih dalam bacaan.
Adapun Ali bin Abi Thalib lebih menonjol dalam kedalaman ilmu dan pemahaman tentang sifat-sifat Allah serta hikmah agama. Banyak kata-kata hikmah beliau yang sampai kepada kita sebagai pelajaran tentang tauhid dan akhlak.
Meskipun cara pendekatan mereka berbeda, aqidah mereka tetap satu. Tidak pernah mereka saling menyesatkan satu sama lain.
Perbedaan di Kalangan Imam MazhabPerbedaan juga terjadi pada masa para imam mazhab dalam masalah fiqih (cabang hukum). Empat imam mazhab besar yang terkenal adalah:
Abu Hanifah
Malik bin Anas
Muhammad bin Idris al‑Syafi'i
Ahmad bin Hanbal
Perbedaan mereka bukan dalam aqidah, tetapi dalam cara memahami dalil dan metode istinbath hukum.
Perbedaan Membaca Basmalah dalam ShalatMazhab Syafi’i Basmalah dibaca keras (jahr) pada shalat jahr seperti Maghrib, Isya, dan Subuh.
Mazhab Hanafi Basmalah dibaca pelan (sir) dan tidak termasuk ayat Al-Fatihah.
Mazhab Maliki Basmalah tidak dibaca dalam shalat wajib, kecuali dalam shalat sunnah.
Mazhab Hanbali Basmalah dibaca pelan, tetapi tetap dianggap bagian dari bacaan.
Perbedaan ini terjadi karena perbedaan memahami hadis tentang bacaan Rasulullah ﷺ dalam shalat.
Perbedaan Tentang Qunut SubuhMazhab Syafi’i berpendapat bahwa qunut pada shalat Subuh adalah sunnah. Dalilnya antara lain hadis:
“Rasulullah ﷺ terus melakukan qunut pada shalat Subuh hingga beliau wafat.” (HR. Ahmad dan Baihaqi)
Mazhab Hanafi, Maliki, dan Hanbali berpendapat bahwa qunut Subuh tidak dilakukan secara tetap, kecuali ketika terjadi musibah besar (qunut nazilah). Dalilnya hadis:
“Sesungguhnya Rasulullah pernah qunut selama sebulan kemudian meninggalkannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Perbedaan ini tidak menjadikan mereka saling menyesatkan. Justru mereka saling menghormati.
Perbedaan dalam Organisasi IslamDalam perkembangan zaman, lahirlah organisasi-organisasi Islam seperti:
Nahdlatul Ulama
Muhammadiyah
Persatuan Tarbiyah Islamiyah
Contohnya dalam menentukan awal Ramadhan.
Muhammadiyah menggunakan metode hisab (perhitungan astronomi). Dasarnya adalah ayat:
“Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya serta menetapkan manzilah-manzilahnya agar kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan waktu.” (QS. Yunus: 5)
NU dan PERTI menggunakan metode rukyatul hilal (melihat bulan secara langsung). Dalilnya hadis Rasulullah ﷺ:
“Berpuasalah kamu karena melihat hilal dan berbukalah karena melihatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Walaupun berbeda metode, tujuannya tetap sama yaitu melaksanakan ibadah dengan benar.
Sikap Bijak dalam Menghadapi PerbedaanPerbedaan pendapat dalam masalah furu’ (cabang) adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari. Bahkan para ulama mengatakan:
“Ikhtilaf ulama adalah rahmat bagi umat.”
Perbedaan itu bukan untuk dipertentangkan, tetapi untuk memperkaya khazanah ilmu Islam.
Maka sangat tidak bijak jika seseorang berkata: “Pendapat NU salah.” atau “Pendapat Muhammadiyah tidak benar.”
Ucapan seperti itu seakan-akan menutup mata terhadap luasnya ilmu para ulama.
Seorang ulama pernah berkata dengan indah:
“Janganlah engkau memadamkan lampu orang lain hanya untuk menyalakan lampumu sendiri.”
Artinya, tidak perlu mematikan kebenaran orang lain hanya agar pendapat kita terlihat paling benar.
Selama perbedaan itu masih berada dalam koridor Al-Qur’an dan Sunnah, maka perbedaan itu adalah bagian dari rahmat Allah.
Yang Harus Diwaspadai: Ajaran SesatYang harus kita waspadai bukanlah perbedaan mazhab atau organisasi, tetapi ajaran yang menyimpang dari aqidah Islam.
Para ulama menyebutkan beberapa tanda ajaran sesat, di antaranya:
1. Mengingkari rukun iman atau rukun Islam
Allah berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.” (QS. An-Nisa: 136)
Jika ada ajaran yang menolak rukun iman atau rukun Islam, maka itu adalah penyimpangan.
2. Mengaku ada nabi setelah Nabi Muhammad
Allah berfirman:
“Muhammad itu bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasul Allah dan penutup para nabi.” (QS. Al-Ahzab: 40)
3. Menolak Al-Qur’an atau mengubah isinya
Allah berfirman:
“Sesungguhnya Kami yang menurunkan Al-Qur’an dan Kami pula yang menjaganya.” (QS. Al-Hijr: 9)
4. Menghalalkan yang jelas haram atau mengharamkan yang jelas halal
Allah berfirman:
“Janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta: ini halal dan ini haram.” (QS. An-Nahl: 116)
5. Menafsirkan agama tanpa dasar ilmu
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barang siapa berkata tentang Al-Qur’an dengan pendapatnya sendiri tanpa ilmu maka bersiaplah menempati tempatnya di neraka.” (HR. Tirmidzi)
Perbedaan dalam Islam adalah kenyataan yang akan selalu ada sampai hari kiamat. Namun perbedaan itu jangan sampai memecah belah hati umat.
Yang terpenting adalah aqidah tetap lurus, ibadah tetap dijaga, dan persaudaraan sesama Muslim tetap dipelihara.
Selama kita masih mengucapkan La ilaha illallah Muhammadur Rasulullah, selama kita masih menjadikan Al-Qur’an dan Sunnah sebagai pedoman hidup, maka kita masih berada dalam satu rumah besar yang bernama umat Islam.
Dan di tengah banyaknya perbedaan itu, marilah kita tetap waspada terhadap ajaran yang benar-benar menyimpang dari aqidah.
Sebab menjaga kemurnian tauhid adalah tugas kita semua.
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan
