YONNEDI.M. S.Ag,.M.Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
PENTINGNYA MENANAMKAN MALU

PENTINGNYA MENANAMKAN MALU

Judul: Pentingnya Menanamkan Sikap Malu

Dalam ajaran Islam, sikap malu memiliki kedudukan yang sangat tinggi. Malu bukan sekadar perasaan biasa, tetapi merupakan bagian dari iman yang menjadi pengendali perilaku manusia. Orang yang memiliki rasa malu akan menjaga ucapan, perbuatan, dan sikapnya agar tidak melanggar aturan agama maupun norma masyarakat.

Rasulullah SAW bersabda:

“Malu itu adalah bagian dari iman.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam hadis lain juga disebutkan:

“Iman itu memiliki lebih dari enam puluh cabang, dan malu adalah salah satu cabang dari iman.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menunjukkan bahwa rasa malu merupakan bagian penting dari keimanan seseorang. Jika rasa malu hilang dari diri manusia, maka hilang pula sebagian dari imannya.

Dalam kehidupan sehari-hari, orang yang memiliki rasa malu akan menjaga dirinya dari perbuatan dosa, menjaga kehormatan, serta menghormati norma agama dan adat yang berlaku.

1. Malu Merupakan Bagian dari Iman

Dalam Islam, iman tidak hanya diyakini dalam hati, tetapi juga terlihat dari perilaku seseorang. Salah satu tanda iman yang kuat adalah adanya rasa malu.

Rasulullah SAW pernah memuji seorang sahabat yang sangat terkenal dengan sifat malunya, yaitu Utsman bin Affan.

Diriwayatkan bahwa suatu hari Rasulullah SAW sedang duduk di rumahnya. Datanglah Abu Bakar dan Umar, dan Rasulullah tetap seperti biasa. Namun ketika Utsman bin Affan datang, Rasulullah segera merapikan pakaiannya.

Aisyah bertanya mengapa Rasulullah melakukan hal itu. Rasulullah menjawab:

“Tidakkah aku merasa malu kepada seseorang yang malaikat pun merasa malu kepadanya.” (HR. Muslim)

Ini menunjukkan bahwa rasa malu merupakan akhlak yang sangat mulia dalam Islam.

2. Malu Mendatangkan Kebaikan

Rasulullah SAW bersabda:

“Malu itu tidak mendatangkan sesuatu kecuali kebaikan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Orang yang memiliki rasa malu akan menjaga dirinya dari berbagai perbuatan buruk. Ia malu berbohong, malu menipu, malu mengambil hak orang lain, dan malu melakukan maksiat.

Sebaliknya, jika rasa malu telah hilang, maka seseorang dapat melakukan apa saja tanpa memikirkan akibatnya.

Karena itu Rasulullah juga bersabda:

“Jika engkau tidak memiliki rasa malu, maka berbuatlah sesukamu.” (HR. Bukhari)

Hadis ini merupakan peringatan bahwa hilangnya rasa malu akan membuka pintu berbagai kerusakan moral.

3. Malu kepada Allah SWT

Malu yang paling tinggi adalah malu kepada Allah SWT. Seorang mukmin yang sejati akan merasa diawasi oleh Allah setiap saat.

Allah berfirman:

“Tidakkah dia mengetahui bahwa Allah melihat?” (QS. Al-Alaq: 14)

Rasulullah SAW bersabda:

“Malulah kepada Allah dengan sebenar-benarnya malu.” (HR. Tirmidzi)

Malu kepada Allah berarti menjaga pikiran, menjaga perut dari makanan yang haram, menjaga perbuatan dari dosa, dan selalu mengingat kematian.

Jika seseorang malu kepada manusia saja ia tidak berani berbuat jahat, maka seharusnya ia lebih malu kepada Allah yang selalu melihatnya.

4. Malu Berbeda dengan Rasa Takut

Banyak orang menyamakan antara malu dan takut. Padahal keduanya berbeda.

Takut adalah rasa khawatir terhadap hukuman atau bahaya. Sedangkan malu adalah kesadaran dalam diri untuk menjaga kehormatan dan martabat.

Contohnya:

Orang tidak mencuri karena takut ditangkap polisi, itu takut.

Orang tidak mencuri karena merasa itu memalukan bagi dirinya sebagai muslim, itu malu.

Jadi malu lahir dari iman dan kesadaran moral.

5. Malu Bukan Kelemahan

Sebagian orang mengira malu adalah kelemahan. Padahal malu adalah kekuatan moral yang menjaga manusia dari keburukan.

Yang menjadi kelemahan adalah malu yang salah tempat, misalnya malu bertanya ketika tidak tahu, atau malu mengatakan kebenaran.

Rasa malu yang benar justru membuat seseorang menjadi lebih mulia.

6. Konsep Malu dalam Adat Minangkabau (Sumbang Duo Baleh)

Dalam budaya Minangkabau, rasa malu juga sangat dijunjung tinggi. Hal ini terlihat dalam ajaran adat yang dikenal dengan “Sumbang Duo Baleh” (Sumbang Dua Belas).

Sumbang dua belas adalah pedoman etika dan sopan santun dalam kehidupan masyarakat Minangkabau, terutama bagi perempuan agar menjaga kehormatan diri.

Di antara Sumbang Duo Baleh tersebut adalah:

Sumbang Duduak Duduk harus sopan dan menjaga adab, tidak membuka aurat atau duduk sembarangan.

Sumbang Tagak Berdiri harus menjaga sikap dan tidak menimbulkan perhatian yang tidak baik.

Sumbang Bajalan Cara berjalan harus sopan, tidak tergesa-gesa atau berlenggak-lenggok yang tidak pantas.

Sumbang Bakato Berbicara harus santun, tidak berkata kasar atau menyakiti hati orang lain.

Sumbang Mancaliak Cara memandang harus dijaga, tidak memandang sesuatu yang tidak pantas.

Sumbang Makan Cara makan harus sopan, tidak berlebihan dan tidak rakus.

Sumbang Bapakaian Berpakaian harus menutup aurat dan tidak menimbulkan fitnah.

Sumbang Bakawan Dalam bergaul harus memilih teman yang baik dan menjaga batas pergaulan.

Sumbang Bapikiran Berpikir harus baik dan tidak merencanakan sesuatu yang buruk.

Sumbang Bapandang Menjaga pandangan dari hal-hal yang tidak pantas.

Sumbang Baturuik Mengikuti sesuatu harus sesuai dengan aturan adat dan agama.

Sumbang Bagaua Dalam pergaulan harus menjaga martabat diri dan keluarga.

Adat Minangkabau sangat selaras dengan ajaran Islam. Oleh sebab itu dikenal pepatah:

“Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah.”

Artinya adat bersendi kepada syariat Islam, dan syariat bersumber dari Al-Qur’an.

Sikap malu merupakan akhlak mulia yang sangat penting dalam Islam. Malu adalah bagian dari iman, mendatangkan kebaikan, menjaga manusia dari dosa, dan mengangkat derajat seseorang di hadapan Allah.

Islam dan adat Minangkabau sama-sama menanamkan nilai malu sebagai penjaga kehormatan manusia.

Jika rasa malu tetap hidup dalam diri seseorang, maka ia akan menjaga ucapan, perbuatan, dan sikapnya. Namun jika rasa malu telah hilang, maka berbagai kerusakan moral akan mudah terjadi.

Karena itu, marilah kita menanamkan rasa malu dalam diri, keluarga, dan masyarakat, agar lahir generasi yang beriman, berakhlak mulia, dan menjaga kehormatan dirinya.

Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

“Jika engkau tidak memiliki rasa malu, maka berbuatlah sesukamu.” (HR. Bukhari)

Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang memiliki rasa malu kepada-Nya dan menjaga kehormatan diri dalam kehidupan ini. Aamiin.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post