YONNEDI.M. S.Ag,.M.Pd

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
MENULIS MENUJU TURKI

MENULIS MENUJU TURKI

DARI TANJUNG LIMAU MENUJU TURKI Kalian Boleh Berasal dari Pondok Kecil, Tetapi Jangan Pernah Bermimpi Kecil

Untuk Alfi, Santri Kelas XII, dan Ahmad El Varo, Santri Kelas XPondok Pesantren Thawalib Tanjung Limau

Ada sebuah pesan yang ingin saya titipkan kepada kalian berdua.

Jangan pernah merasa kecil hanya karena kalian belajar dari sebuah pondok yang kecil. Jangan pernah merasa kalah hanya karena fasilitas yang kita miliki tidak selengkap lembaga pendidikan lainnya. Dan jangan pernah berpikir bahwa tulisan kalian tidak akan mampu sampai ke dunia hanya karena kalian memulainya dari sebuah sudut kecil bernama Tanjung Limau.

Sebab sejarah telah membuktikannya.

Pondok Pesantren Thawalib Tanjung Limau bukanlah pondok yang lahir dengan segala kemewahan. Kita tumbuh dengan keterbatasan, tetapi kita memiliki sesuatu yang jauh lebih mahal daripada fasilitas, yaitu semangat, ilmu, perjuangan, kedisiplinan, ketekunan, dan doa.

Dari pondok kecil ini telah lahir santri-santri yang berani melangkahkan kaki jauh ke negeri orang. Ada yang telah sampai ke Mesir dan Yordania. Mereka dahulu juga memulai langkahnya dari tempat yang sama: belajar, mengaji, menghafal, berlatih, jatuh, bangun, kemudian mencoba lagi.

Hari ini giliran kalian.

Alfi dan Ahmad El Varo.

Kalian bukan sekadar dua orang santri yang sedang mengikuti sebuah perlombaan. Kalian sedang membawa nama Pondok Pesantren Thawalib Tanjung Limau ke panggung yang lebih luas.

Kalian sedang belajar bahwa seorang santri tidak hanya pandai membaca kitab, menghafal Al-Qur'an, beribadah, atau berbicara di depan orang lain. Santri juga harus mampu berpikir, meneliti, menulis, menyampaikan gagasan, dan memberikan jawaban terhadap persoalan kehidupan.

Hari ini dunia membutuhkan santri yang seperti itu.

Santri yang kuat agamanya.

Santri yang luas ilmunya.

Santri yang baik akhlaknya.

Santri yang mampu berdiri dengan kakinya sendiri.

Santri yang mampu membaca perubahan zaman.

Dan santri yang berani mengatakan:

“Saya berasal dari pondok yang sederhana, tetapi saya mempunyai cita-cita yang besar untuk bangsa dan dunia.”

Alfi, kamu sekarang duduk di kelas XII. Sebentar lagi kehidupan akan membawamu keluar dari gerbang pondok. Apa yang kamu bawa dari pondok bukan hanya ijazah. Yang lebih penting adalah karakter, pengalaman, keberanian, kemandirian, ilmu, dan cara berpikir yang telah ditempa selama menjadi santri.

Ahmad El Varo, kamu masih kelas X. Perjalananmu masih panjang. Jangan terburu-buru ingin sampai di ujung. Nikmati prosesnya. Belajarlah dari setiap kesalahan. Karena santri yang hebat bukanlah santri yang tidak pernah salah, tetapi santri yang mau belajar dari kesalahannya dan tidak berhenti memperbaiki dirinya.

Kalian berdua mempunyai kesempatan yang luar biasa.

Di pondok ini kalian telah melihat banyak hal.

Kalian belajar hidup bersama.

Kalian belajar bangun ketika orang lain masih tidur.

Kalian belajar mengaji ketika dunia sedang sibuk dengan hiburan.

Kalian belajar disiplin.

Kalian belajar berbagi.

Kalian belajar menyelesaikan persoalan sendiri.

Kalian belajar menghormati guru.

Kalian belajar membantu teman.

Kalian belajar menjadi manusia yang tidak selalu bergantung kepada orang lain.

Itulah pesantren.

Pesantren bukan hanya tempat untuk menambah pengetahuan, tetapi juga tempat untuk menempa manusia.

Di sinilah mental kalian diuji.

Di sinilah kesabaran kalian dilatih.

Di sinilah kemandirian kalian diasah.

Di sinilah keberanian kalian dibentuk.

Dan di sinilah kalian belajar bahwa keberhasilan tidak datang dalam satu malam.

Karena itu, ketika siang hari kalian membuka buku dan malam hari kalian masih berusaha memperbaiki tulisan, jangan pernah menganggap perjuangan itu sebagai beban.

Anggaplah itu sebagai investasi masa depan.

Mungkin hari ini kalian lelah.

Mungkin hari ini kalian merasa tulisan kalian belum bagus.

Mungkin kalian membaca berkali-kali tetapi masih menemukan kesalahan.

Mungkin kalian menulis satu halaman lalu menghapusnya kembali.

Mungkin kalian merasa penelitian ini terlalu sulit.

Tetapi ingatlah:

Tidak ada tulisan besar yang lahir dari kemalasan. Tidak ada peneliti besar yang lahir tanpa proses. Tidak ada keberhasilan yang datang tanpa perjuangan.

Kita sedang mencoba menjebol satu pintu.

Pintu dunia.

Bukan untuk mencari kebanggaan pribadi semata.

Bukan untuk mengatakan bahwa kita lebih hebat daripada orang lain.

Tetapi untuk membuktikan bahwa santri dari Tanjung Limau juga mampu berpikir dan berkarya untuk dunia.

Apalagi kesempatan ini hadir melalui program Santri Mendunia dalam rangka memperingati kemerdekaan Indonesia dan diselenggarakan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia. Maka jangan sia-siakan kesempatan ini.

Tulisan kalian mungkin dimulai dari meja sederhana.

Penelitian kalian mungkin dikerjakan dengan fasilitas yang terbatas.

Diskusi kalian mungkin hanya berlangsung di lingkungan pondok.

Tetapi jangan lupa:

pikiran manusia tidak mengenal batas ruangan.

Satu gagasan yang baik dapat menyeberangi lautan.

Satu tulisan yang kuat dapat dibaca oleh manusia dari berbagai negara.

Satu penelitian yang jujur dapat menjadi inspirasi bagi banyak orang.

Dan satu perjuangan kecil dari Tanjung Limau bisa saja menjadi cerita besar di kemudian hari.

Bayangkan suatu saat nanti kalian berdiri di Turki.

Kalian melihat bendera Indonesia.

Kalian bertemu santri dan pelajar dari berbagai daerah dan negara.

Lalu dalam hati kalian berkata:

“Saya pernah menulis penelitian ini dari Pondok Pesantren Thawalib Tanjung Limau.”

Bukankah itu sebuah kebanggaan?

Tetapi jangan berhenti pada bayangan tersebut.

Kejar dengan kerja.

Kejar dengan membaca.

Kejar dengan menulis.

Kejar dengan bertanya.

Kejar dengan memperbaiki kesalahan.

Kejar dengan doa.

Dan yang paling penting, jangan pernah berhenti belajar.

Kalian juga tidak berjalan sendirian.

Ada Pk. Yonnedi, M.S.Ag., M.Pd. yang akan membimbing dan mendampingi kalian dalam perjalanan ini.

Ada Ibu Indrikasih, M.Pd. yang ikut memberikan bimbingan dan perhatian agar tulisan kalian menjadi lebih baik.

Gunakan kesempatan itu sebaik-baiknya.

Bertanyalah sebanyak-banyaknya.

Jangan malu mengatakan belum tahu.

Jangan takut kalau tulisan kalian dikoreksi.

Jangan sakit hati kalau kalimat kalian diperbaiki.

Karena setiap koreksi adalah bagian dari proses menjadi lebih baik.

Tulisan yang hebat bukan tulisan yang sejak awal sempurna. Tulisan yang hebat adalah tulisan yang terus diperbaiki sampai menjadi kuat.

Alfi dan Ahmad El Varo, saya ingin kalian mengingat satu hal:

Kalian tidak sedang berlomba melawan santri lain.

Lawan terbesar kalian adalah rasa malas.

Lawan terbesar kalian adalah rasa takut.

Lawan terbesar kalian adalah keraguan dalam diri sendiri.

Dan lawan terbesar kalian adalah pikiran yang berkata:

“Ah, kita hanya dari pondok kecil. Mana mungkin bisa sampai dunia?”

Jawab pikiran itu dengan kerja.

“Justru karena kami dari pondok kecil, kami ingin menunjukkan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bermimpi.”

Pondok kita mungkin sederhana.

Tetapi mimpi kita tidak boleh sederhana.

Pondok kita mungkin tidak memiliki segala fasilitas.

Tetapi semangat kita harus tanpa batas.

Kita mungkin belum dikenal dunia.

Tetapi karya kita harus mulai memperkenalkan nama Tanjung Limau kepada dunia.

Dari Tanjung Limau menuju Mesir.

Dari Tanjung Limau menuju Yordania.

Dan sekarang, kita mencoba membuka jalan baru:

Dari Tanjung Limau menuju Turki.

Bukan karena kita merasa hebat.

Tetapi karena kita percaya bahwa Allah memberikan kemampuan kepada setiap manusia untuk berusaha dan berkembang.

Kalian adalah santri.

Kalian adalah bagian dari generasi yang akan menentukan wajah Indonesia pada tahun 2045.

Karena itu, jangan hanya menjadi generasi yang pintar menggunakan teknologi.

Jadilah generasi yang mampu mengendalikan teknologi dengan ilmu dan akhlak.

Jangan hanya menjadi generasi yang pandai berbicara.

Jadilah generasi yang mampu membuktikan perkataannya melalui karya.

Jangan hanya menjadi generasi yang ingin sukses.

Jadilah generasi yang bermanfaat bagi agama, bangsa, masyarakat, dan kemanusiaan.

Dan sekarang, mari kita buktikan bersama.

Alfi.

Ahmad El Varo.

Tulis nama kalian dengan baik.

Tulis nama pondok dengan penuh tanggung jawab.

Tulis penelitian dengan kejujuran.

Tulis dengan ilmu.

Tulis dengan data.

Tulis dengan hati.

Tulis dengan semangat seorang santri.

Karena boleh jadi tulisan yang sedang kalian kerjakan hari ini bukan hanya menjadi tulisan untuk sebuah perlombaan.

Boleh jadi ini adalah awal perjalanan akademik kalian.

Boleh jadi kelak kalian menjadi peneliti.

Boleh jadi kalian menjadi guru besar.

Boleh jadi kalian menjadi pemimpin.

Boleh jadi kalian membawa nama Indonesia ke berbagai belahan dunia.

Tidak ada seorang pun yang mengetahui masa depan.

Tetapi masa depan itu sedang kalian bangun hari ini.

Maka teruslah membaca.

Teruslah menulis.

Teruslah bertanya.

Teruslah berdiskusi.

Teruslah memperbaiki.

Dan jangan lupa berdoa.

Siang kita belajar.Malam kita menulis.Esok kita memperbaiki.Hari berikutnya kita mencoba lagi.

Sampai suatu hari nanti kita dapat mengatakan:

“Alhamdulillah, tulisan santri Thawalib Tanjung Limau telah sampai ke dunia.”

Itulah perjuangan kita.

Bukan sekadar mengejar juara.

Tetapi membangun keberanian untuk bermimpi, keberanian untuk berkarya, dan keberanian untuk membawa nama pondok ke panggung dunia.

Dari pondok yang sederhana, lahirlah mimpi yang luar biasa.

Dari Tanjung Limau, kita melangkah.

Dengan ilmu kita berjalan.

Dengan akhlak kita berdiri.

Dengan doa kita mengetuk pintu langit.

Dengan kerja keras kita mengetuk pintu dunia.

Dan semoga suatu hari nanti, ketika kalian telah menjadi orang besar, kalian masih mengingat satu hal:

Kalian pernah menjadi santri kecil di Pondok Pesantren Thawalib Tanjung Limau yang pada suatu malam berani bermimpi untuk menulis sesuatu yang dibaca dunia.

Terus berjuang, Alfi.Terus berjuang, Ahmad El Varo.

Kalian boleh berasal dari pondok kecil.Tetapi jangan pernah mempunyai mimpi yang kecil.

“Santri Mendunia, Berawal dari Mimpi, Tumbuh dalam Ilmu, Ditempa dengan Akhlak, dan Dibuktikan dengan Karya.”

YONNEDI, M.S.Ag., M.Pd., Tk. Pangulu MudoPembimbing

Indrikasih, M.Pd.Pembimbing

Pondok Pesantren Thawalib Tanjung Limau

“Fastabiqul khairat — berlomba-lombalah dalam kebaikan.”

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post