Yuswanto Raider

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya
Navigasi Web
Dosen UNIM Ini, Soroti Regenarasi Ludruk Dalam Pentas 'Besut Jajah Deso Milangkori'
Akhmad Fatoni, S.S., M.Hum., Penyair dan Dosen Universitas Islam Majapahit Mojokerto Saat Menjadi Sarasumber Dalam Sarasehan Budaya Bersama Meimura, Rabu, 7 Mei 2026. (Foto-foto : Yuswanto Raider)

Dosen UNIM Ini, Soroti Regenarasi Ludruk Dalam Pentas 'Besut Jajah Deso Milangkori'

Sebuah keberuntungan, ketika penulis bertemu sosok ini. Adalah Akhmad Fatoni, S.S., M.Hum., seorang penyair dan dosen di Universitas Islam Majapahit (UNIM) Mojokerto. Sebuah kampus yang didirikan almarhum Mahmoed Zain (mantan Bupati Mojokerto era 90-an). Akhmad Fatoni sendiri, dikalangan mahasiswa maupun pegiat seni budaya, lebih akrab disapa Fatoni.

Fatoni sudah menulis buku tunggal seputar puisi, esai, dan cerpen, sudah terbit 4 buku. Sedangkan untuk buku antologi bersama sebanyak 17 buku. Kandidat program doktoral Universitas Negeri Surabaya (Unesa) ini, terhitung sejak 2016 mengabdikan diri sebagai dosen di UNIM. Meskipun dalam perjalanan karirnya, Fatoni pernah menjadi guru Bahasa Indonesia di Madrasah Aliyah Akselerasi Amanatul Ummah.

Pada kesempatan ini, penulis diijinkan mempublikasikan sebuah tulisan Fatoni, ketika dijadikan bahan dalam Sarasehan Budaya, bersama gelaran ludruk garingan Besutan oleh Meimura. Alumnus S1 Sastra Indonesia Unesa dan S2 Kajian Sastra Universitas Airlangga ini, selama ini dikenal sebagai pegiat seni budaya di Bumi Majapahit. Bahkan dalam dua tahun terakhir, dirinya dipercaya sebagai juri Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) Tingkat Jawa Timur.

Berikut ini, penulis menyajikan bahan Sarasehan Fatoni secara lengkap, yang menjadi bahan paparan sekaligus diskusi di Graha Nuswantara Unim, pada Rabu (7/5) bersama Ki Bagong Sinukarto (budayawan Pasuruan), dan dipandu moderator Henri Nurcahyo (BrangWetan).

Selasa, 28 April 2026, Meimura mengabarkan ingin melihat lokasi pentas yang akan digelar 7 Mei 2026 di Gedung Graha Nuswantara lantai 2 Universitas Islam Majapahit. Selain membincangkan lokasi, saya juga sempat menanyakan perihal lakon yang akan dibawakan di Unim. “Bagaimana kalau kita membicarakan situs yang terlihat dan tak terlihat?” Yah, memang setiap gelaran lakon yang dimainkan selalu mengangkat isu daerah tersebut. Sebelumnya, Cak Mei—begitu panggilan akrab saya—sudah besutan di beberapa kota, diawali di Surabaya yang digelar di Balai RW 8 Gunung Anyar Emas (4/4),

Kedua di Dewan Kesenian Sidoarjo (10/4), ketiga di Komunitas Rebung Pring Ori Tembelangan Jombang (18/4), keempat di Sanggar Rumah Ilalang Ngajuk (25/4). Setelah dari Mojokerto, akan ada 5 kota lagi, di antaranya Kediri, Madiun, Malang, Blitar, dan Jember. Pertanyaan yang langsung muncul di benak saya: Apakah makna situs itu melekat pada fisiknya, atau justru dibangun oleh masyarakat yang melihatnya? Pertanyaan inilah yang coba dijawab – sekaligus tidak dijawab – oleh pentas Besut Jajah Deso Milangkori. Dan untuk memandu pemahaman kita, mari menengok tiga teori budaya yang akan memperkaya sudut pandang kita.

PERTARUNGAN BERMAKNA

Di dunia ilmu budaya, Stuart Hall, seorang pemikir asal Jamaika yang berkarier di Inggris, pernah mengajarkan sesuatu yang membebaskan: makna tidak pernah melekat secara alami pada benda. Makna diproduksi. Ia lahir dari bahasa, wacana, dan praktik sosial. Sebuah situs—candi, puing keraton, prasasti, petirtaan, sendang, hingga petilasan—hanyalah penanda (signifier), sedangkan petanda (signified) bisa bermacam-macam, tergantung siapa yang melihat dan dalam konteks apa. Naskah pentas itu sendiri mengakui hal ini secara puitis.

“Dari satu jejak yang sama, tumbuh beragam makna. Ada yang melihat kejayaan, ada yang membaca luka. Ada yang percaya ini warisan agung, ada pula yang mencurigai manipulasi kuasa.”

Itulah yang oleh Hall disebut sebagai pertarungan representasi. Situs menjadi medan di mana berbagai kelompok bersaing untuk memaknai masa lalu. Tak ada kebenaraan yang absolut. Dan justru di situlah keadilan sejarah mulai bekerja, jika kita berani memberi ruang pada bacaan-bacaan yang berbeda. Hal itu mengingatkan saya pada penyair Binhad Nurrohmat ketika memutuskan mukim di Jombang, puisinya sudah tidak lagi membicarakan filosofi tubuh (baca: seksualitas) seperti saat di Jakarta.

Binhad membongkar situs-situs di sekitaran Jombang dan Mojokerto, hingga membongkar sejarah lahirnya Soekarno. Kerja kepenyairan Binhad membuktikan bahwa sejarah itu bisa direpresentasikan ulang dan menjari praktik bahasa, wacana, dan praktik sosial yang menarik dan tidak pernah ada habisnya.

Mengapa perbedaan tafsir itu bisa ada? Maurice Halbwachs, sosiolog Prancis, yang memperkenalkan gagasan tentang memori kolektif yang bisa kita jadikan acuan dalam memandang keberbedaan makna yang lahir. Ingatan, kata Halbwachs, bukanlah urusan individu semata.

Kita mengingat, karena kita terikat pada kelompok—dalam hal ini bisa keluarga, komunitas, sekolah, kampus, pesantren, atau bahkan bangsa. Setiap kelompok menyediakan kerangka sosial yang membentuk apa yang kita ingat dan bagaimana kita mengingatnya. Ruang dialog yang saat ini kita lakukan, sebagai bentuk menangkap memori kolektif itu. Jika ditilik garis merahnya, selalu membentuk oposisi. Dua ingatan kolektif yang berbeda.

Pertama, mungkin dibentuk oleh pendidikan era Orde Baru yang menekankan kejayaan nasional. Kedua, dibentuk oleh bacaan kritis pascakolonial yang lebih peduli pada suara-suara marjinal. Tak satu pun sepenuhnya salah atau benar. Ingatan-ingatan itu hanya lahir dari kerangka sosial yang berbeda.

Pertanyaan kritisnya: lantas suara siapa yang dominan dalam buku-buku sejarah atau situs-situs yang terus satu per satu ditemukan? Suara rakyat kecil, perempuan, atau kaum yang terjajah juga punya ruang untuk diingat? Pentas seperti Besut Jajah Deso menjadi penting, karena ia membuka ruang bagi memori-memori yang terpinggirkan.

Lalu, bagaimana seharusnya kita bersikap terhadap makna yang jamak dan ingatan yang bersaing? Lah, dalam hal ini Paul Ricoeur, filsuf Prancis, mengemukakan tentang seni interpretasi. Ricoeur mengajarkan bahwa memahami bukanlah menemukan satu makna rahasia di balik teks atau dalam bincang kali ini tentang situs.

Memahami dalam hal ini adalah sebuah perjalanan. Proses itu dimulai dari pemahaman naif (apa yang tampak), setelah itu pemahaman kritis (mempertanyakan asumsi), dan akhirnya berujung pada pemaknaan ulang yang lebih kaya. Besutan ini seperti menyuaran hermeneutika Ricour: “Mari berjalan, dari yang tampak menuju yang tersembunyi. Dari situs menuju rasa. Dari sejarah menuju cerita.” Maka, pentas Besut Jajah Deso tidak pernah memberi kesimpulan bulat. Ia justru merayakan ketidakselesaian. Itulah praktik hermeneutik yang hidup. Ia mengajak kita untuk tidak terpaku pada satu tafsir, melainkan terus bergerak, terus bertanya, dan terus merasakan.

Jika kita gabungkan ketiga teori ini – representasi yang jamak (Hall), memori yang bersifat sosial (Halbwachs), dan interpretasi sebagai perjalanan (Ricoeur), kita bisa menemukan garis merah bahwa peradaban tidak hanya hidup di masa lalu, tetapi juga bagaimana cara kita memaknainya saat ini.

Di era media sosial, sikap merayakan tafsir adalah perlawanan yang lembut. Tanpa teriakan, tanpa paksaan, namun kita akan diberi lemparan pilihan: belajarlah mendengar tidak dengan telinga, tetapi dengan kesadaran bahwa jawaban atas segala hal itu bisa berbeda, dan jangan meresahkan perbedaan, melainkan harus dirayakan.

INGATAN KOLEKTIF

Besutan Cak Mei ini, seperti memberi kita ruang baru. Ruang yang oleh masyarakat kita diambil serampangan sebagai nama cilok, nama warung makan, nama perkumpulan, dan asesoris kekinian yang membersamai anak-anak muda, supir truk, atau bahkan dijajakan di tempat-tempat wisata. Namun nama-nama itu akan dikutuk, jika membuat perjuangan itu mandeg: kabotan jeneng.

Kadang juga dijadikan ejeken-ejekan, namun kita kerap kali melewatkan imajinasi dan melemparkan pertanyaan: kenapa memakai nama Majapahit untuk Cilok? Kenapa menggunakan nama Majapahit untuk komunitas? Atau bahkan menanyakan kenapa nama kampus ini Universitas Islam Majapahit?

Bila pertanyaan-pertanyaan itu terlontar dan teori-teori tadi akan membuat pengalaman kita semakin kaya dan memperdalam rasa. Maka kita akan diperkaya dengan tafsir yang berbeda. Dan perbedaan itu bisa membawa kita pada yang tersembunyi. Kita akan mendengar bisikan masa lalu dengan segala tafsirnya, sebab masa lalu tidak pernah benar-benar pergi.

Hanya kitalah yang terus berlari menuju kemerlap dan kemudahan yang ditawarkan teknologi. Padahal orang-orang yang menguri-uri tradisi dan membawanya ke masa kini menjadi garda depan, sebut saja Bo Liem (merawat makanan khas Onde-onde) atau Warung Makan Sambel Wader di depan Kolam Segaran. Lantas proyek kapal Jung yang mangkrak itu bagaimana? Ups! (UseOneTo)

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Laporkan Penyalahgunaan
search

New Post