PPLH Seloliman Latih Murid SMPN 1 Ngoro Membuat Kecap dan Saos Ekologis, Ini Buktinya!
SMPN 1 Ngoro sebagai Sekolah Adiwiyata Nasional dan Sekolah Sehat Nasional, memiliki komitmen tinggi dan sangat layak diteladani. Sekolah “anti plastik” dalam keseharian dilingkungan sekolah itu, tercatat sebagai satu-satunya sekolah yang hingga dirilis tulisan ini, tetap disiplin dan memiliki manajemen tata kelola lingkungan sekolah yang mantap, lestari, dan berwawasan lingkungan.
Sekolah yang berada di Desa Jasem, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Mojokerto ini, merupakan sekolah yang pernah menjadi cikal bakal Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI). Meskipun program RSBI sudah resmi dihapus pemerintah sejak 8 Januari 2013, namun SMPN 1 Ngoro tetap dikenal sebagai sekolah bermutu dan teguh menjalankan budaya sekolah Adiwiyata.
Demi mendukung keberlangsungan dan keberlanjutan budaya Adiwiyata, selama ini SMPN 1 Ngoro menjalin kerjasama dengan Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH) Seloliman. Selain pendampingan program, PPLH Seloliman juga memberikan berbagai jenis pelatihan, baik berupa penambahan wawasan maupun teknologi tepat guna yang berbasis ekologis. Salah satunya seperti yang dilaksanakan pada Sabtu (16/5) lalu.
“Sekolah kita kerjasama dengan PPLH Seloliman sudah lama dan berlanjut hingga sekarang. Kebetulan kali ini, kita mengirimkan 20 anak untuk mendapatkan pelatihan pembuatan kecap berbahan air kepala dan saos tomat. Tujuan pelatihan kali ini untuk mengenalkan secara langsung produk olahan yang ekologis demi mendukung program ketahanan pangan,” ujar Sri Indayani, S.Pd., M.Pd.. Kepala SMPN 1 Ngoro.
Sri Indayani yang akrab dipanggil bu Iim itu, menegaskan bilamana upaya pembiasaan dan pembudayaan berbudaya lingkungan, sudah menjadi ruh sekolah yang dipimpinnya. Sehingga seluruh guru, tenaga kependidikan, dan murid, sudah terbiasa untuk mengedukasi dirinya sendiri lebih peduli dan ramah lingkungan.
“Anak-anak harus kita didik dan bimbing dengan benar tentang berbudaya lingkungan. Sehingga upaya mewujudkan pendidikan bermutu dan berdampak nyata dapat diwujudkan secara faktual oleh keluarga besar SMPN 1 Ngoro,” ucap bu Iim menandaskan komitmen sekolahnya untuk memberikan pendidikan terbaik bagi murid-muridnya.
BAHAN ALAMI
Sementara itu, sebanyak 20 murid dan 3 guru pendamping pun dikirim untuk mengikuti pelatihan di PPLH Seloliman. Guru pendamping yang turut serta adalah Sundoko Abdi Susilo, S.Pd., Setyo Hetty Wahyuningsih, S.Pd., dan Arin Fitriani, S.Pd. Ketiga guru mendampingi keduapuluh muridnya sejak pukul 08.00 hingga 13.00 WIB.
Topik pelatihan kali ini adalah membuat kecap berbahan air kelapa dan pembuatan saos tomat. Kedua jenis pelengkap makanan itu dibuat berbahan alami dan bebas dari berbagai zat adiktif. Kecap dan saos yang dibuat murid-murid SMPN 1 Ngoro dengan didampingi tim PPLH Seloliman itu dikategorikan sebagai makanan ekologis.
“Kerjasama PPLH Seloliman dengan SMPN 1 Ngoro berfokus pada pendampingan dan praktikum langsung. Semua sudah terprogram berdasarkan kesepakatan kedua pihak. Sebelumnya pihak SMPN 1 Ngoro melatih kader-kader lingkungan disekolah. Giliran sekarang, programnya diarahkan pada bentuk ketahanan pangan secara ekologis,” ungkap Imron, selaku bidang Humas PPLH Seloliman.
Pada pelatihan kali ini, lanjut Imron, murid-murid SMPN 1 Ngoro dilatih membuat kecap dari bahan air kelapa. Juga dilatih membuat saos tomat tanpa bahan-bahan kimia atau pun zat adiktif lainnya. Harapannya, kelak murid-murid ini dapat mengkonsumsi makanan sehat tanpa resiko bahan kimia yang membahayakan kesehatannya. Oleh karenanya, bertindak sebagai narasumber dan pelatih dari PPLH Seloliman adalah Iswandi, Yudha Prastyadi, dan Jayanti.
Adapun 20 murid yang mengikuti pelatihan di PPLH Seloliman, adalah Ardian (8.F), Attalah (8.G), Arfian (8.G), Felix (8.B), Ivan Santoso (7.A), Riska Fitriana (7.J), Debri Kartika (7.I), M. Maulana Restu (7.E), Keisha (8.D), Asyfa muntazilla (8.C), Maheswari (8.E), Ahmad Rifki Wahyudi Amel (8.B), Merci (8.B), Nur Laila (8.A), Aliyah Saskia (7.C), Amel (8.F), Vino (8.J), Windy Aqilah (7.I), Tara Putri (7.G), dan Bintang (7.E).
Selanjutnya, menurut Riska Fitriana dari kelas 7.J, pelatihan yang diikuti sangat memberi manfaat. Selain wawasan tentang makanan ekologis, dirinya kini bisa mengetahui berbagai resiko yang ditimbulkan dari makanan yang menggunakan penajam rasa, pengawet, maupun bahan kimia lainnya.
“Anak-anak sekarang itu kan senangnya mengkonsumsi makanan instan atau pun fresh food. Sedangkan mereka tidak paham seputar bahan-bahan apa saja yang digunakan dalam makanan itu. Setelah ikut pelatihan ini, selain banyak informasi penting, saya dan teman-teman bisa lebih memahami pentingnya menjaga kualitas makanan dan minuman yang kita konsumsi sehari-hari,” ujar Riska sembari menunjukkan kecap yang sudah dibuat bersama Tim PPLH Seloliman.(UseOneTo)










Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.
Laporkan Penyalahgunaan